Sample Texts
Specialty:
History
From:
English
Henry VIII (28 June 1491 – 28 January 1547) was King of England and Lord of Ireland, later King of Ireland and claimant to the Kingdom of France, from 21 April 1509 until his death. Henry was the second monarch of the House of Tudor, succeeding his father, Henry VII.
Henry VIII was a significant figure in the history of the English monarchy. Although in the first parts of his reign he energetically suppressed the Protestant revolt against the Roman Catholic Church, a revolt which traced some of its roots back to John Wycliffe of the 14th century, he is more often known for his ecclesiastical struggles with Rome. These struggles ultimately led to him separating the Anglican Church from Roman authority, the Dissolution of the Monasteries, and establishing the English monarch as the Supreme Head of the Church of England. Although some claim he became a Protestant on his death-bed, he advocated Catholic ceremony and doctrine throughout his life; royal backing of the English Reformation was left to his heirs, Edward VI and Elizabeth I, while his daughter Mary I fought to return papal authority over the church. Henry also oversaw the legal union of England and Wales (see Laws in Wales Acts 1535–1542). He is noted for being married six times.
To:
Indonesian
Henry VIII (28 Juni 1491-28 January 1547) adalah Raja Inggris dan Lord Irlandia, kemudian menjadi Raja Irlandia dan Penuntut tahta Kerajaan Perancis, dari 21 April 1509 sampai kematiannya. Henry adalah raja kedua dari Keluarga Tudor, menggantikan ayahnya, Henry VII.
Henry VIII adalah seorang figur yang berpengaruh dalam sejarah kerajaan ingris. Meskipun pada masa awal pemerintahannya ia bersemangat menekan pihak Protestan memberontak terhadap Gereja Katholik Roma, sebuah pemberontakan yang ditelusuri sumbernya bermula dari John Wycliffe dari abad ke-14, ia lebih dikenal untuk perlawanannya terhadap Roma. Perlawanan ini pada akhirnya membawanya memisahkan Gereja Anglikan dari otoritas Roma, pembubaran biara-biara, dan mejadikan Kerajaan Inggris sebagai Pemimpin Utama dari Gereja Inggris. Walaupun ada beberapa dugaan ia menjadi seorang Protestan menjelang kematiannya, ia mempertahankan doktrin dan tata cara Katholik selama hidupnya; dukungan kerajaan terhadap Reformasi Inggris diwariskan kepada penerusnya, Edward VI dan Elizabeth I, sedangkan anak perempuannya Mary I berjuang untuk mengembalikan otoritas paus terhadap gereja. Henry juga meninjau gabungan sah dari Inggris dan Wales (lihat Hukum dalam Undang-Undang Wales 1535-1542). Ia dicatat karena menikah sebanyak enam kali.